Archives for August 2015

Bisnis money changer akan diperketat

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) gencar mengatur pembelian valuta asing (valas) di dalam negeri. Setelah menurunkan batas pembelian valas tanpa underlying menjadi US$ 25.000 per bulan, saat ini bank sentral sedang menggodok aturan pembelian valas di money changer.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan transaksi pembelian valas di money changer harus mempunyai underlying.

Jadi, bagi money changer yang melakukan transaksi dengan bank valas harus mempunyai bukti pembelian yaitu underlying.

Ia menjelaskan, selama ini money changer mendapat pasokan valas dari bank.

“Nanti bank akan minta mana underlying-nya,” ujarnya, Senin (31/8).

Underlying alias jaminan ini bisa berupa bukti transaksi pembelian valas dari konsumen money changer. Aturan ini akan dibuat BI dalam bentuk Peraturan Bank Indonesia (PBI).

Otoritas moneter secara luas akan mempertegas kembali aturan khusus money changer.

Mirza menegaskan transaksi di dalam negeri antar domestik baik yang korporasi atau non korporasi harus dikendalikan.

Cara untuk mengendalikannya adalah dengan underlying sehingga permintaannya menjadi jelas.

Misalnya, aktivitas impor mempunyai underlying dan bayar dividen pun mempunyai underlying.

Transaksi valas diperbolehkan asalkan mempunyai alasan yang jelas.

Sekadar mengingatkan, BI baru saja mengeluarkan PBI Nomor 17/13/PBI/2015 tentang Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Antara Bank dengan Pihak Domestik.

Dalam beleid ini, BI mengubah batas nilai maksimum pembelian valas melalui transaksi spot yang dilakukan tanpa keperluan tertentu (underlying), dari sebelumnya sebesar US$ 100.000 Amerika Serikat (AS) per bulan per nasabah atau pihak asing menjadi sebesar US$ 25.000.

Alhasil, pembelian valas di atas US$ 25.000 diwajibkan memiliki underlying transaksi berupa seluruh kegiatan perdagangan dan investasi.

Editor: Adi Wikanto.


Distribusi: Kontan Online

Bursa Amerika Dibuka Merah

shadow

Financeroll – Bursa Saham AS dibuka lebih rendah pada sesi perdagangan hari Senin karena investor terus mengkhawatirkan tentang perlambatan ekonomi di Tiongkok dan kemungkinan bahwa Federal Reserve akan tetap menaikkan tingkat suku bunga pada bulan September. Indeks utama berada di jalur penurunan bulanan terbesar sejak bulan Oktober 2008, sama dengan pada waktu puncak krisis keuangan.

S & P 500 dibuka 9 poin atau 0,4% lebih rendah ke level 1980. Dow Jones Industrial Average DJIA kehilangan 100 poin atau 0,6% ke leel 16.541. Dan Nasdaq Composite COMP dibuka turun 26 poin atau 0,5% ke level 4803. Ketiga indeks utama berada di jalur kerugian bulanan sekitar 6%.


Distribusi: Financeroll Indonesia

Malam Ini, EURUSD Bertahan di Zona Hijau

shadow

Financeroll – Pergerakan pasar mata uang di hari Senin(31/8), euro masih terpantau menguat terhadap dollar AS setelah dirilisnya serangkaian laporan ekonomi di wilayah Eropa dan Amerika.

Berlangsungnya perdagangan di sesi AS, EURUSD menguat 0.36% dengan diperdagangkan pada level 1.1227, dimana pasangan tersebut cenderung menembus level support di level 1.1172 dan level resistance di level 1.1262.

Euro terlihat masih bertahan untuk diperdagangkan di zona positif terhadap dollar AS setelah dirilisnya laporan ekonomi Eropa dan Amerika pada hari ini. Serangkaian laporan tersebut telah diawali dari wilayah Eropa terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan dengan data dari Amerika Serikat.

Dalam laporan resmi yang dirilis oleh Eurostat sore tadi telah menyebutkan bahwa tingkat inflasi zona euro mengalami kenaikan sebesar 0.2% di bulan Agustus setelah naik sebesar 0.2% di bulan Juli. Survei ekonom telah memperkirakan bahwa tingkat inflasi zona euro akan naik sebesar 0.2% di bulan Agustus.

Sementara itu, setelah sebuah laporan resmi yang dirilis oleh Institute for Supply Management telah menyebutkan bahwa PMI Chicago telah alami penurunan, yang disesuaikan secara musiman menjadi 54.4 di bulan Agustus dari 54.7 di bulan Juli.

Meski demikian, penguatan euro terhadap greenback saat ini masih dibatasi ditengah spekulasi bahwa The Fed tetap berada di jalur untuk menaikan tingkat suku bunga mereka pada pertemuan di bulan September nanti.

Spekulasi tersebut telah diperkuat dengan pernyataan yang dilakukan oleh Wakil Ketua Presiden Federal Reserve, Stanley Fischer yang mengatakan bahwa masih terbukanya jalan untuk menaikan tingkat suku bunga pada pertemuan The Fed yang jatuh pada 16 -17 September mendatang. Fischer juga mengatakan bahwa kenaikan suku bunga di bulan September ini dapat terjadi, meski terlalu cepat untuk mengatakan bahwa bank sentral akan segera melakukan langkah tersebut. (Aditya Arief – FR)


Distribusi: Financeroll Indonesia

Pupus, Harapan Kenaikan Harga Emas

shadow

FINANCEROLL – Bunga-bunga harapan akan membaiknya, bahkan naiknya harga emas menjalar di pasar setelah gejolak di pasar uang beberapa waktu lalu menghantarkan harga emas naik. Sejatinya, harapan itu pupus kembali setelah harga Emas tertekan kembali.

Mengawali perdagangan minggu ini, harga emas dibayangi hasil perdagangan minggu lalu yang berakhir turun ditengah jatuhnya bursa saham AS. Alih-alih menjadi tujuan pelarian investasi, naik turunnya harga emas juga terjadi sepertidi pasar saham, meluruhkan daya tariknya sebegai safe haven. Bursa saham AS mulai membaik saat ini, semakin membuat emas tidak berdaya ditengah potensi penguatan ekonomi AS. Hal ini tentu saja akan menambah beban harga emas.

Dua tahun terakhir ini menjadi tahun yang berat bagi para investor emas, sejak harga emas memasuki masa penurunan harga (bearish)pada April 2013. Setidaknya lebih dari $52 milyar amblas sejak itu. Para manajer investasi untuk pertama kalinya dalam sepekan minggu kemarin telah menaikkan posisi beli mereka dalam angka tertinggi sejak Juni lalu, sebelum harga emas akhirnya mencatatkan kembali penurunannya, bahkan yang terburuk dalam sebulan ini. Laju inflasi AS yang lamban dituding sebagai biang karena kebijakan kenaikan suku bunga AS akan tergantung dari kenaikan angka inflasi.

Harga emas dalam perdagangan minggu lalu di pasar berjangka mengalami penurunan sebesar 2% ke harga $1,134 per troy ons. Jatuhnya harga emas ini merupakan yang paling besar sejak 24 Juli silam.  Indek Dunia MSCI naik sebesar 0,5% sementara Indek Dolar Bloomberg naik 0,7%. Indek Komoditi Bloomberg melonjak 1,8%. Harga emas batangan untuk kontrak Desember hanya berubah sedikit di harga $1.134,10 per ons pada Sore hari ini di bursa Seoul.

Para spekulan menaikkan posisi beli hingga tiga kali lipat hingga mencapai 44,271 kontrak berjangka dan Option dalam sepekan hingga 25 Agustus kemarin, menurut Commodity Futures Trading Commission yang dikabarkan tiga hari kemudian. Ini juga merupakan catatan tersendiri sebagai posisi beli yang paling banyak ditahan selama tiga minggu beruntun sejak Januari silam.

Memang The Federal Reserve akan mendapat tekanan untuk segera menaikkan suku bunga di tahun ini, mengabaikan kondisi ekonomi Tiongkok dan devaluasi Yuan yang dianggap memicu keprihatinan global terkait pertumbuhan ekonomi dan aksi jual yang menimpa pasar saham. Meski kondisi ekonomi AS membuktikan mampu bertahan dan mencoba bangkit kembali, para pembuat kebijakan masih saja harus bersiap dengan skenario melemahnya ekonomi Internasional. Kabar terkini semakin meruncing bahwa keyakinan akan keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September ini hanya sebesar 38% saja. Keyakinan ini menurun dari harapan pada dua minggu sebelumnya yang masih diangka 48%.

Harga emas bisa saja naik dengan kembalinya sejulah investor setelah mereka memperhitungkan kenaikan suku bunga AS ditahun ini tidak akan melampui 1%, hal inipun masih dianggap kurang kokoh menjadi pijakan harga emas. Bagaimana tidak, permintaan emas dunia masih mengkhawatirkan. Jumlah kepemilikan ETF, yang berbasis emas mengalami penurunan sebesar 12%sepanjang tahun hingga 11 Agustus ini. Jumlah ini terus mengecilo sejak 2009. Semakin angka inflasi AS jauh dari target The Fed sebesar 2%, daya pikat emas sebagai aset pengaman investasi saat inflasi atau sebagai safe haven tentu meredup. Disisi lain, jatuhnya harga minyak mentah dunia lebih dari 50% selama setahun ini juga semakin menghambat kenaikan inflasi.

Dengan latar belakang tersebut, kita melihat berbagai potensi deflasi menghampar dimana-mana. Dalam kondisi yang demikian ini, emas semakin sulit untuk menjadi tujuan utama investasi. Sedikit sekali hal-hal yang bisa menimbulkan potensi penguatan harga emas saat ini. Melihat hal itu, saat ini bisa saja menjauhi emas. Bisa menjadi pertimbangan bahwa harga emas masih diperkirakan akan menurun, setidaknya ke harga dikisaran $1,125 per troy ons.(Lukman Hqeem | redaksi@financeroll.com)


Distribusi: Financeroll Indonesia

Harga Kurs Rupiah dan Kurs Dollar hari ini 31 Agustus 2015 Malam Hari

Hari ini 31 Agustus 2015 Malam Hari

Nilai tukar kurs Rupiah dan kurs Dollar di spot market hari ini adalah :

– terhadap mata uang US Dollar (USD IDR) di harga = Rp.14067

– terhadap mata uang Singapore Dollar (SGD IDR) di harga = Rp.9959

– terhadap mata uang Australia Dollar (AUD IDR) di harga = Rp.10036

– terhadap mata uang Euro (EUR IDR) di harga = Rp.15764

– terhadap mata uang Jepang Yen (JPY IDR) di harga = Rp.115

– terhadap mata uang Chinese Yuan Renminbi RMB (CNY IDR) di harga = Rp.2205

–  terhadap mata uang Malaysia Ringgit (MYR IDR) di harga = Rp.3355

–  terhadap mata uang Thailand Baht (THB IDR) di harga = Rp.392

–  terhadap mata uang Poundsterling (GBP IDR) di harga = Rp.21697

Pantauan nilai tukar kurs rupiah dan dollar tersebut adalah berdasarkan pada harga spot pasar mata uang (valas) yang sebenarnya.

Gainscope FX

Update harga kurs berdasarkan jam : 21.00 WIB 

(tr)