Backtest dengan Simulator

Anggaplah kamu mempunyai sebuah strategi forex trading dan ingin mengetes seberapa akurat strategi tersebut. kamu dapat saja mencobanya dengan metode forward testing menerapkan demo account, tetapi sebelum menjadikan forward testing ada baiknya mencobanya terlebih dahulu dengan menerapkan backtesting.

Mengapa menjadikan Backtesting?
Jika anda ingin tahu apa kegunaan backtesting yaitu kami dapat mengetes strategi trading dengan lebih cepat dari forward testing.

Tetapi jangan salah, meskipun kamu telah menjadikan backtesting, tetap saja harus diikuti oleh forward testing karena kualitas hasil backtest sangat tergantung pada kualitas data historis mobilitas harga yang kamu miliki. Sebagai cara antisipasi, maka perlu dilakukan Fdilakukan forward testing setelahnya.
Kali ini saya akan mencoba membahas menjadikan backtesting untuk cara trading manual.

Sebenarnya cara ini jugalah yang saya pergunakan untuk belajar trading di masa lalu. Jika mempelajari sebuah petunjuk teknikal dengan cara menggeser grafik ke belakang dan mengamati pola yang telah terjadi, pola petunjuk yang terbentuk memang sudah “jadi”, sehingga peluang kesalahan pembacaan sinyal sangat kecil, bahkan hampir nihil.

Hal tersebut tentu berpotensi menjadi masalah jika kamu mulai mengamati petunjuk tersebut secara live. Itu karena seringkali bentuk atau corak petunjuk teknikal tertentu berubah-ubah mengikuti naik-turunnya harga. Kondisi tersebut biasa disebut dengan “repaint”.

Salah satu cara untuk mempelajari petunjuk adalah dengan menggunakan backtesting , atau bahkan sistem trading tertentu. Dengan simulator trading, kamu seperti-olah dapat “kembali ke masa lalu” dan “merasakan” mobilitas di masa itu. petunjuk teknikal yang kamu pergunakan juga akan bergerak dinamis sesuai dengan mobilitas harga pada saat itu.

Trading Simulator
kamu dapat mencari rencana simulator trading yang dapat dipasang ke MT4 di internet atau dari Market yang terintegrasi dengan MT4. Salah satu simulator yang kami pergunakan adalah MNZ Trading Sim.

Cara memperoleh simulator ini adalah dengan masuk ke Market yang dapat kamu temui di Terminal MT4 kamu. Di kotak “search” kamu tinggal mengetikkan MNZ Trading Sim, maka kamu akan melihat simulator yang dimaksud lalu klik ikon-nya.


Setelah itu kamu tinggal mengklik tombol “Download” dan tunggu hingga kelihatan tulisan “Installation completed”.


Jika simulator ini sudah tertempel dengan benar di MT4, maka kamu akan melihat folder “Market” di “Navigation Panel” MT4. MNZ Trading Sim ini akan dapat kamu temui di folder tersebut.

Menerapkan Simulator
Untuk menjadikan backtesting dengan simulator yang sudah kamu download tadi, pergunakan kemudahan Strategy Tester yang ada di MT4. Cara menggerakkan Strategy Tester ini adalah dengan meng-klik tombol “View”, setelah itu pilih “Strategy Tester”. Kalau kamu terbiasa menerapkan shortcut, dapat juga dengan menekan tombol Ctrl-R pada papan ketik kamu.


setelah itu pilih MNZ Trading Sim di bar Expert Advisor. Jika kamu tidak melihatnya, coba klik folder “Market”.


fase sesudahnya adalah memilih currency pair yang ingin kamu transaksikan menggunakan robot tersebut. kamu juga harus memutuskan “time frame” atau “periode” waktu yang kamu inginkan.

kamu juga dapat memutuskan rentang waktu yang ingin kamu gunakan untuk menjadikan simulasi. Untuk menjadikan hal tersebut, kamu harus mencentang terlebih dulu kotak pilihan “Use Date”, baru setelah itu kamu dapat memutuskan tanggal, bulan dan tahun berapa di pilihan yang ada di sebelah kotak “Use Date” tersebut. Misalnya jika kamu memutuskan
“From: 2010.01.01 To: 2016.10.07”, itu artinya kamu akan menggunakan data yang terekam di rentang waktu tersebut (mulai 1 Januari 2010 hingga 10 Juli 2016).

Karena akan menjadikan simulasi trading tanpa menggunakan bantuan, jangan lupa klik juga kotak ceklis “Visual mode” agar nanti kamu dapat melihat mobilitas harga seperti mobilitas sesungguhnya.

Setelah semua parameter ditetapkan, kamu tinggal meng-klik “Start” dan nanti akan kelihatan grafik yang memperlihatkan mobilitas harga selama rentang waktu yang telah kamu tentukan tadi.

grafik yang bergerak itu sebenarnya memperlihatkan “rekaman” mobilitas harga yang telah terjadi, tetapi di-“play back” sehingga kamu seperti menjadikan transaksi di masa itu. kamu dapat memasang petunjuk-petunjuk yang kamu inginkan di grafik tersebut, sesuai dengan pengaturan petunjuk strategi forex trading yang akan kamu simulasikan.

Menjalankan Simulasi
Karena ini hanya “rekaman”, maka kamu dapat mempersingkat atau memperlambat mobilitas grafik simulasi tersebut. Caranya adalah dengan menggeser-geser “speed bar” yang ada di Visual Mode. kamu juga dapat menghentikan simulasi sementara dan setelah itu menjalankannya lagi dengan tombol “Pause” yang tersedia.
kamu tinggal menjadikan transaksi (simulasi tentunya) sesuai dengan sinyal yang diberikan sistem trading yang kamu pergunakan. Untuk menjadikan transaksi simulasi tersebut, kamu tinggal memanfaatkan fitur yang tersedia di MNZ Trading Sim. kamu dapat menjadikan simulasi Instant/Market Execution atau Pending Order.
Dengan cara ini kamu dapat berlatih menerapkan strategi forex trading kamu, seperti sedang di pasar yang sesungguhnya.

(yn)

Double Bollinger Bands

Apakah kamu sering mendengar – atau malah memakai – salah satu indikator teknikal yang bernama “Bollinger Bands” atau yang biasa di singkat dengan inisial BB? Wajar jika kamu sering mendengarnya, karena indikator yang dinamai dengan nama penemunya ini (John Bollinger) memang salah satu indikator teknikal yang cukup terkenal di kalangan forex trader.

Kebanyakan trader hanya memuat satu BB saja di chart mereka. Nah, kali ini kita akan mencoba membahas salah satu skema trading yang memanfaatkan DUA BB bersamaan dalam satu chart. skema ini biasa dikenal dengan nama “skema Trading Forex dengan Double Bollinger Bands”. Agar lebih mudah, kita sebut saja skema trading “Double-BB”.

Mechanical Trading System
Sebagaimana skema trading yang menerapkan indikator teknikal, maka Double-BB ini juga merupakan mechanical trading system, yaitu sistem trading yang berdasar pada pengamatan teknikal untuk memproduksi sinyal trading. Disebut “mechanical” karena trader yang memakai sistem trading seperti ini seharusnya membuat keputusan buy, sell, atau close berdasarkan sinyal yang muncul dari sistem tadi, tanpa mempedulikan sentimen apa pun yang berkembang di pasar.

Jika dibandingkan maka Mechanical trading system lebih “ringan” daripada pengamatan teknikal yang kompleks, semisal menerapkan price pattern atau candlestick pattern. Itulah sebabnya metode ini cukup bersahabat bagi trader yang “kurang sabar” dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk melakukan pengamatan dengan menerapkan pengamatan teknikal yang lebih kompleks. Jadi, metode trading ini lebih wajar. Tetapi ingat, karena itulah metode trading seperti ini seringkali memiliki tingkat kesuksesan yang cukup rendah. Ada kelebihan (wajar), ada pula kelemahannya.

Esensinya, kamu harus menyadari bahwa dalam dunia pengamatan teknikal tidak ada yang namanya “holy grail”, yaitu suatu sistem yang dipercaya “anti-loss”. Tetap saja ada peluang untuk kerugian.

Bagaimana hakekatnya Double-BB Ini?
Seperti yang disampaikan di atas, Double-BB menerapkan dua BB bersamaan dalam satu chart. skema ini sangat wajar, karena meskipun nanti akan ada candlestick yang terlibat namun pada dasarnya kamu tidak perlu pusing menghafalkan nama-nama candlestick pattern.

skema ini tidak mengharuskan kamu menghilangkan banyak waktu di depan chart. malah kamu hanya perlu melongok chart daily (D1) beberapa menit saja setiap harinya. Jika kamu menyaksikan ada peluang trading berdasarkan sistem ini, maka kamu bisa mengungkap posisi. Jika tidak, kamu tinggal kembali menyaksikan chart di keesokan harinya. Tidak perlu menyaksikan time-frame lain, indikator teknikal lain, dan sebagainya.

Cara Menerapkan Double-BB
Seperti yang saya janjikan, metode ini sangat wajar. kamu hanya membutuhkan dua indikator BB. Itu saja.

seting indikator BB di chart kamu dengan penyusunan sebagai berikut:

 

Period: 20
Deviations: 2
Shift: 0

Nah, karena deviations yang dihitung bernilai 2 (dua), maka untuk berikutnya BB yang ini kita sebut sebagai BB-2.

Setelah itu seting lagi indikator BB yang lain, tetapi kali ini di kotak deviations masukkan angka 1 (satu). BB yang ini berikutnya kita namakan BB-1. Jadi penyusunannya adalah:

Period: 20
Deviations: 1
Shift: 0

Dalam contoh ini, saya memakai dua warna yang berbeda untuk masing-masing BB, yaitu warna merah untuk BB-2 dan biru untuk BB-1. Tentu saja kamu bebas memilih warna favorit.

Sudah, itu saja yang perlu kamu seting di chart kamu. Oh ya, jangan lupa: seting di chart DAILY (D1). Di bawah ini adalah contoh gambarannya.

Nah, kalau kamu amati chart di atas, kamu akan bisa menyaksikan bahwa BB-2 berada di luar selagi BB-1 berada di dalam. amati bahwa middle band BB-1 dan BB-2 letaknya sama persis, karena memang perbedaan deviasi (deviations) tidak akan mempengaruhi letak middle band.

OK, sekarang kita masuk ke belahan yang agak “rumit”.

Jangan panik dulu. Yang “rumit” hakekatnya adalah cara menjelaskannya, bukan memakainya. Itu karena saya tidak bisa menemukan cara yang lebih wajar untuk menjelaskan cara kerja skema ini. Jadi sepertinya ada baiknya kamu siapkan dulu secangkir cappuccino dan beberapa cemilan.

Cappuccino kamu sudah siap? Kalau begitu, mari kita lanjutkan.

Aturan BUY
Untuk mengungkap posisi buy:

Pastikan ada candlestick yang close di atas upper band BB-1 tetapi masih di bawah upper band BB-2.
Lihat dua candlestick lebih dahulu. Haruslah dua candlestick itu close di bawah upper band BB-1 namun di atas middle band.
Jika kamu sudah menyaksikan setup seperti ini, kamu boleh mengungkap posisi buy di harga close candlestick yang ke-3 tadi. Ingat, candlestick ke-3 harus sudah close.
Tempatkan stop loss (SL) di harga LOW candlestick ke-3, selagi target profit (TP) bisa ditempatkan sepanjang dua kali jarak SL. Jadi, jika misalnya SL kamu sebesar 200 pips, maka TP bisa ditempatkan sepanjang 400 pips.
Untuk lebih terangnya, lihat gambar berikut ini. Chart di bawah ini adalah screen capture pergeseran USDJPY di chart D1. belahan yang di-highlight merupakan candlestick tanggal 15, 18 dan 19 Agustus 2014.

amati pergeseran harga selanjutnya:

Aturan SELL
Untuk mengungkap posisi sell:

Pastikan ada candlestick yang close di bawah lower band BB-1 tetapi masih di atas upper band BB-2.
Lihat dua candlestick lebih dahulu. Kedua candlestick tadi harus close di atas lower band BB-1 tetapi di bawah middle band.
Jika kamu sudah menyaksikan setup seperti ini, kamu boleh mengungkap posisi sell di harga close candlestick yang ke-3 tadi. Ingat, candlestick ke-3 harus sudah close.
Tempatkan stop loss (SL) di harga HIGH candlestick ke-3, selagi target profit (TP) bisa ditempatkan sepanjang dua kali jarak SL.
Untuk lebih terangnya, lihat gambar berikut ini:

amati pergeseran harga berikutnya:

 

Sekarang kamu sudah mengetahui bahwa kamu bisa menerapkan dua BB bersamaan dalam satu chart sebagai salah satu skema trading forex yang wajar. Ini adalah salah satu contoh mechanical trading system yang wajar.

Ingat selalu bahwa tidak ada jaminan bahwa akurasi skema trading ini adalah 100%, maka dari itu selalu amati parameter resiko dan penyusunan modal kamu.

(yn)

Tips Mengefektifkan Dana Trading Anda

Salah satu pertanyaan yang cukup kerap berulang adalah, “Pak, kalau saya punya $10,000, berapa lot saya bisa buka posisi?”
Position sizing adalah tentang cara menyusun berapa besar lot yang bisa kamu pergunakan dalam open posisi trading. Tujuan utamanya adalah untuk menahan seorang trader agar tidak terjebak dalam kondisi overtrade, yaitu kondisi ketika ia open posisi terlalu banyak melebihi yang seharusnya. Dengan demikian, trader tersebut akan terhindar dari resiko yang terlalu besar sebab posisi yang diambil dengan sendirinya sudah memperhitungkan jumlah resiko tersebut.

Position sizing berguna untuk mengefektifkan strategi dan dana, namun ternyata tidak banyak disadari bahwa itu dapat untuk membatasi resiko.
Strategi harus cocok dengan dana

kamu mungkin cukup sering mendapatkan strategi trading tertentu baik dari internet atau kenalan dan menurut kesaksian mereka strategi tersebut cukup ampuh dalam mendulang profit. Pertanyaan yang seharusnya segera muncul dari kamu adalah: berapa besar dana yang diperlukan agar strategi tersebut berhasil dengan baik?

Sangat banyak strategi trading yang diklaim profitable namun ternyata tidak bekerja dengan baik ketika kamu pergunakan. Ada beberapa penyebab, di antaranya adalah kamu tidak memiliki dana yang tepat untuk strategi tersebut. Sangat mungkin trader yang sebelumnya sukses melaksanakan strategi tersebut memiliki dana yang jauh lebih besar daripada dana kamu. Jadi, jangan memaksakan diri mempergunakan strategi yang sama jika dana yang kamu miliki jauh lebih kecil.

Jangan sia-siakan kekuatan kamu
Bagaimana jika sekamuinya kamu memiliki dana yang cukup besar? Berapa lot yang sebaiknya dibuka untuk bertransaksi?

Sebelum kita meneruskan, perlu dipahami bahwa “kekuatan” di sini maksudnya adalah dana. Ini erat kaitannya dengan position sizing yang disinggung di atas.

Katakanlah kamu memiliki dana sebesar $10,000 atau setara dengan seratus juta rupiah. Lalu kamu akan melakukan transaksi, lantas muncullah pertanyaan seperti yang disebutkan di paragraf awal di atas.

Memang kamu boleh saja open posisi hanya 0.1 lot, misalnya. Tetapi apakah langkah itu akan efektif untuk mengoptimalkan peluang yang ada? Belum tentu, sebab itu bisa berarti kamu menyia-nyiakan kekuatan dana kamu sesungguhnya.

Artinya, trading forex kamu jadi kurang praktis.

Bagaimana agar trading jadi lebih praktis?
Di situlah tugas position sizing.

Ingat bahwa dalam trading kamu juga perlu menetapkan batasan kerugian maksimal untuk setiap transaksi. Kalau dana kamu $10,000 dan batasan resiko untuk tiap trade adalah (misalnya) 10%, itu berarti kerugian (resiko) tiap transaksi tidak lebih dari $1,000.

Nah, anggaplah kamu akan memulai transaksi di EUR/USD. Setelah sudah memulai analisa teknikal, kamu melihat bahwa stop-loss semestinya ditempatkan sejauh 500 pips dari level posisi terbuka kamu. Dengan perkiraan quote 5 desimal, di mana 1 pip(ette) = $1, maka besarnya stop-loss per lot adalah $500.

OK, jadi dengan skenario tersebut, berapa lot kamu bisa membuka posisi?

Ini jawabannya:

Trading forex indonesia, strategi trading forex

Dengan perincian seperti di atas, maka sekamuinya kamu loss pun tidak akan melebihi batas toleransi resiko kamu. Dengan demikian kamu tetap bisa tenang.

Sebaliknya jika kamu mendapatkan keuntungan maka kamu telah membuat transaksi tersebut jadi jauh lebih efektif daripada hanya open posisi sebesar 0.1 lot, misalnya.

Jadi jelas bahwa selain untuk membatasi resiko, position sizing juga bisa membuat trading kamu jauh lebih efektif tanpa perlu takut mengalami kerugian yang terlalu besar, karena memang sudah kamu batasi sejak awal sesuai dengan “tingkat kenyamanan” kamu sendiri.

kamu siap membuat strategi trading forex kamu jauh lebih efektif namun tetap dalam batas toleransi resiko? Pergunakanlah trik position sizing ini di akun trading kamu.

(yn)

Trading Dengan Menggunakan Price Action

Dalam pengamatan teknikal, muncul banyak sekali prosedur cara melaksanakan pengamatan. Salah satunya menggunakan prosedur strategi forex trading dengan price action. Mungkin di suatu ketika Anda tanpa sengaja melihat seorang trader forex melaksanakan pengamatan tanpa menerapkan indikator teknikal apa pun. Ia hanya menerapkan garis-garis horizontal, diagonal atau mungkin bahkan vertikal. Betul-betul tidak ada satu pun indikator teknikal di chart yang ia amati.

Kira-kira apa jawaban Anda ketika melihatnya? Kagum? bingung? Atau justru menganggapnya aneh?

Jika Anda merasa bingung atau menganggapnya aneh, mungkin itu karena Anda terbiasa pada model pengamatan yang menerapkan banyak warna-warni indikator teknikal. Tetapi perlu Anda ketahui, bahwa sebenarnya memang ada prosedur pengamatan yang tidak menggunakan indikator teknikal sama sekali yang biasa disebut pada naked trading.

Para pengikut naked trading hanya menerapkan grafik pergerakan harga (candlestick atau bar chart) sebagai acuan pengamatan mereka, atau yang biasa disebut pada price action. Nah, tulisan kali ini mencoba untuk memperkenalkan naked trading menerapkan price action, sebagai salah satu prosedur yang (sebenarnya) cukup popular di kalangan trader forex.

Price Action
Kita mulai dari uraian price action trading itu sendiri.

pada bahasa yang disederhanakan (setidaknya saya berupaya untuk menyederhanakannya), price action trading adalah teknik trading yang mengharuskan Anda untuk “membaca” potensi pergerakan pasar dan membuat keputusan berdasarkan pergerakan harga saja. Jadi tidak mengandalkan indikator teknikal.

“Aliran” ini tumbuh karena menganggap bahwa (kebanyakan) indikator teknikal itu bersifat lagging, alias telat. Itu karena output dari mayoritas indikator teknikal merupakan “produk” dari perhitungan berdasarkan pergerakan harga yang telah terjadi. pada kata lain, indikator teknikal memberikan informasi berdasarkan pergerakan harga “di masa lalu”.

Nah, mungkin ada pertanyaan: mengapa melaksanakan pengamatan berdasarkan informasi “dari masa lalu”, sementara faktor terpenting dalam trading adalah apa yang dilakukan pasar saat ini dan apa yang kemungkinan besar akan mereka lakukan dalam waktu dekat?

Jawabannya adalah bahwa pada menerapkan strategi tertentu, informasi pergerakan harga “dari masa lalu” dapat dimanfaatkan untuk memperkirakan kemungkinan arah pergerakan harga selanjutnya dalam waktu dekat. Hanya saja, prosedur price action tidak menerapkan indikator teknikal yang dianggap lagging.

prosedur ini hanya menggunakan chart pergerakan harga, biasanya pada mempelajari model-model candlestick atau model yang terwujud dari sekumpulan candlestick atau bar chart. Contoh model-model tersebut dapat Anda pelajari di sini.

Contoh Strategi
Di atas sudah disebutkan bahwa model candlestick merupakan salah satu praktik price action trading. Nah, sekarang saya mencoba untuk memberikan contoh penggunaan candlestick pattern sebagai strategi trading.

Kita ambil contoh pengerjaan model morning star sebagai strategi buy.

Morning star adalah model candlestick (candlestick pattern) yang terbentuk oleh tiga buah candlestick chart.

Morning star dapat Anda kenali mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Candlestick pertama merupakan candlestick bearish, yang mana adalah sisi dari sebuah downtrend.
Candlestick ke-dua adalah candlestick yang mempunyai body yang lebih kecil, dapat merupakan candlestick bullish ataupun bearish. Hal ini memberitahu bahwa mulai ada “keragu-raguan” di pasar.
Candlestick ke-tiga adalah candlestick bullish yang lebih panjang ketimbang candlestick ke-dua. Panjangnya tidak perlu sama dengan candlestick pertama, namun posisi harga close-nya harus melebihi setengah dari body candlestick pertama. Inilah konfirmasi terwujudnya model morning star.
Bentuk modelnya lebih kurang seperti berikut ini:

Strategi Forex Trading Dengan Price Action

Contoh strategi yang dapat diterapkan adalah strategi “militan” dan “konvensional”. Bagaimana pengerjaannya?

Strategi militan
Anda dapat membuka posisi buy segera sesudah candlestick yang ke-3 selesai (closed). Stop loss diletakkan di bawah harga low candlestick ke-2.

Strategi Forex Trading Dengan Price Action

Strategi konservatif
Posisi buy dibuka hanya apabila pergerakan harga telah melewati ke atas harga tertinggi yang dibentuk oleh model tersebut. Stop loss dapat diletakkan di bawah harga low candlestick ke-3 atau ke-2.

Strategi Forex Trading Dengan Price Action

prosedur ini hanyalah salah satu dari sekian banyak prosedur pengamatan yang dapat Anda pelajari dan pergunakan. Tentu saja tidak ada prosedur pengamatan atau strategi trading forex yang sempurna. Demikian juga dengan prosedur price action. Tetap ada ruang untuk kesalahan, atau kemungkinan pasar tidak bergerak sesuai dengan perkiraan. Oleh karena itu, pastikan pergunakan manajemen resiko dan manajamen modal yang baik dan pastikan prosedur yang Anda pilih benar-benar sesuai dengan karakter Anda sebagai seorang trader.

Selamat mencoba.

 

(yn)

Cara Memaksimalkan Indikator SAR dengan ADX

Anda mungkin sudah mendengar indikator yang bernama Parabolic SAR. Benar?

Kali ini, saya akan mencoba mengupas trik trading menggunakan SAR dan dipadukan dengan indikator yang bernama ADX. Baiklah tanpa perlu berpanjang-panjang, kita mulai saja.

Apa itu SAR?

SAR mengsketsakan singkatan dari “stop and reverse” dan mengsketsakan kecenderungan following indicator yang didesain untuk mengenali “turning point” pada pergerakan harga.

Parabolic SAR bisa digunakan untuk:

– Mengenali kecenderungan

– taktik entry dan exit

– Trailing stop

Parabolic SAR nampak sebagai rentetan titik yang nampak di atas atau di bawah harga. Ketika kecenderungan condong naik, titik-titik tersebut berada di bawah mobilitas harga. Sebaliknya ketika kecenderungan condong turun, titik-titik tersebut berada di atas mobilitas harga. Titik-titik tersebut mengekor mobilitas harga hingga pada suatu saat kecenderungan mulai berubah.

Ketika suatu kecenderungan hampir berakhir, biasanya parabolic SAR berjalan normal mendekati harga hingga harga mendekati titik SAR tersebut. Kemudian titik SAR mulai terbentuk di sisi lain mobilitas harga. Itulah indikasi awal bahwa harga tampaknya akan berubah arah.

Berikut ini adalah sketsa chart dengan parabolic SAR yang difungsikan untuk mengenali kecenderungan.

Label 1 adalah ketika SAR mulai terbentuk di bawah harga. Ini adalah indikasi awal bahwa harga tampaknya akan berbalik arah.

Label 2 adalah ketika SAR mulai mengekor mobilitas naik.

Contoh sketsa di bawah ini adalah lawan dari contoh di atas. Ketika harga tadinya naik, kemudian berubah arah menjadi turun.

Kita juga bisa memanfaatkan SAR sebagai trailing stop, yaitu dengan menukar level SL di atas titik SAR yang terakhir muncul (jika harga turun) atau di bawah titik SAR yang terakhir muncul (jika harga naik).

mencampurkan SAR dengan indikator lain

Parabolic SAR bisa dikombinasikan dengan banyak indikator. Meskipun demikian, ingatlah bahwa pada prinsipnya fungsi SAR adalah mengenali kecenderungan dan mengindentifikasi tampaknya perubahan arah harga.

Berpikir bahwa SAR adalah indikator kecenderungan following, maka sebaiknya SAR dikombinasikan dengan indikator yang bisa memberikan informasi mengenai “KEKUATAN kecenderungan”. Sebaiknya tidak mencampurkan SAR dengan indikator ARAH kecenderungan yang lain (misal: MA, Bollinger Band, dsb), karena hal itu hanya akan memberikan output yang sama, yaitu arah kecenderungan. Padahal dengan maksud mencampurkan indikator adalah untuk mencari konfirmasi sinyal.

Salah satu indikator yang biasa dikombinasikan dengan SAR adalah Average Directional Index (ADX). Indikator ini bisa mengukut apakah suatu kecenderungan kuat atau lemah. Jika dalam pembacaan ADX nampak bahwa kecenderungan-nya lemah maka harga condong akan berjalan sideway.

Lalu bagaimana mencampurkan SAR dengan ADX?

Ini dia “rahasianya”. 🙂

Jika nilai ADX nampak berada di antara 0-25, maka kecenderungan dianggap lemah dan biasanya harga akan berjalan sideway (ranging). Jika ADX terbaca di atas 25, maka kecenderungan dianggap cukup kuat.

Jika nilai ADX di atas 30, maka kecenderungan dianggap lebih kuat lagi dan inilah kondisi yang ideal untuk dikombinasikan dengan SAR.

Namun hati-hati. Jika pembacaan ADX mencapai 50 atau lebih, justru ada tampaknya bahwa harga akan berhenti rally, bahkan ada tampaknya akan berubah arah. Jadi hati-hati jika pembacaan ADX menjadi terlalu kuat.

Di sketsa berikut ini, ADX nampak di bawah 25. Artinya kecenderungan terhitung lemah dan ada resiko yang cukup besar jika kita memaksa untuk membuka posisi dengan ADX dan SAR. Ingat-ingat bahwa harga berjalan ranging dan dalam kondisi ini tidak dinasehatkan untuk buka posisi berdasarkan SAR.


Di sketsa berikutnya akan saya berikan contoh di mana ADX berada di atas 25. Perhatikan bahwa pasar berjalan kecenderunganing dan inilah kondisi yang baik untuk trading menggunakan SAR.

Jika Anda ingin mencoba menggunakan sistem ini, maka saya nasehatkan untuk memulainya dengan setting default untuk SAR maupun ADX. Saya juga menyarankan untuk mencobanya dalam jangka waktu yang agak panjang. Jika menggunakan backtest, dinasehatkan untuk menggunakan data setidaknya 1 atau 2 tahun terakhir.

 

(yn)