Pengertian Multiple Time Frame Analysis (bagian 2)

Menggabungkan Ketiga TF
Kombinasi tiga TF untuk menganalisa sebuah pasangan mata uang, diharapkan akan mempermudah Kalian mencari petunjuk entry level yang “terbaik”. Perhatikan tanda kutip yang mengapit kata “terbaik”. Sebenarnya tidak ada level yang terbaik, karena sejatinya kita tidak akan pernah tahu kapan persisnya harga akan berhenti di suatu level. tetapi kita bisa mengusahakan untuk mencari harga yang semurah mungkin apabila ingin buy, atau yang semahal mungkin apabila ingin sell. Jadi, istilah “terbaik” di sini hanya untuk mengupayakan agar kita tidak terlalu cepat atau justru terlambat mengambil keputusan.

Dengan MTFA, analisa yang dilakukan bersifat “top-down”. Artinya Kalian wajib melihat TF yang paling besar dulu, baru kemudian bertahap turun ke TF yang lebih kecil. Sebagai misal, apabila TF Long memperlihatkan uptrend tetapi TF Medium serta TF Short memperlihatkan downtrend, maka Kalian perlu berhati-hati apabila ingin membuka posisi sell.

Ingat “the trend is your friend”. perihal ini, TF Long-lah yang jadi patokan. Maka, sebagai “siasat perang”-nya Kalian sebaiknya menunggu hingga TF yang lebih kecil mengkonfirmasi trend di TF yang lebih besar.

Bagaimana Cara Mempraktekannya ?

misal :

 

Chart di atas adalah EUR/USD di TF H4, sebagai TF Long-nya. Misalnya Kalian ingin memanfaatkan pergerakan dari mid-term trend yang terlihat, yaitu uptrend (perhatikan trendline merah). Sekarang Kalian sudah mendapatkan trend yang Kalian inginkan serta tentunya sudah menetapkan bahwa posisi yang Kalian incar adalah buy.

Selanjutnya, bergeserlah ke TF Medium yaitu TF H1. Kalian akan melihatnya seperti ilustrasi di bawah ini:

Di chart H1, Kalian juga melihat bahwa harga masih bergerak dalam uptrend. Trendline tebal berwarna merah yang berada di bawah adalah trendline yang ditarik di chart H4 tadi. Kalian boleh menarik trendline lagi di chart H1 ini, sebagai accelerating trendline. Pada ilustrasi di atas, Kalian bisa melihatnya sebagai garis putus-putus berwarna merah.

Perhatikan bahwa stochastic serta CCI masih berada dalam kondisi overbought di chart H1. Maka untuk membuka posisi buy, Kalian perlu menunggu hingga keduanya sedikitnya berada dalam kondisi oversold. Akan lebih baik apabila entry level berada sedikitnya di area trendline putus-putus atau di area trendline yang tebal (yang ditarik di chart H4).

apabila misalnya harga telah berada di area trendline, atau stochastic serta CCI telah memperlihatkan indikasi oversold, barulah kemudian Kalian bisa bergeser ke TF yang paling kecil, yaitu TF M15 sebagai TF Short-nya.

ilustrasi di atas merupakan tampilan TF M15 untuk EUR/USD dalam misal kasus kita kali ini. apabila Kalian perhatikan, di TF yang terkecil ini mungkin Kalian tidak akan bisa melihat trend secara jelas. Tak mengapa, karena TF yang terkecil ini perannya bukan lagi untuk melihat trend melainkan mem-filter sinyal entry. Ketika di TF H1 sudah ada indikasi oversold, Kalian tinggal mengkonfirmasinya dengan mencari sinyal buy di TF M15 ini.

apabila sinyal bullish sudah confirmed, Kalian bisa membuka posisi Buy.

Bottom Line
MTFA memang bisa membantu Kalian untuk melakukan transaksi tanpa perlu khawatir terlalu dini atau terlambat masuk atau keluar pasar. Dengan sendirinya, MTFA berpotensi untuk memberikan entry level yang “terbaik” karena informasi yang Kalian peroleh bisa lebih lengkap.

tetapi jangan lupa bahwa tetap dibutuhkan kejelian serta kehati-hatian dalam melakukan metode analisa seperti apa pun. Selain itu, sadarilah bahwa tidak ada satu pun metode analisa yang “bebas cacat”. Sebagai metode trading, MTFA tentu juga memiliki kelemahan, salah satunya adalah waktu yang Kalian perlukan untuk melakukan analisa tentu akan menjadi lebih panjang daripada apabila Kalian menggunakan metode single time-frame analysis.

Kelemahan lain adalah peringatan bagi para pemula, karena seringkali mereka yang mengalami floating loss mencoba untuk mencari “pembenaran” di TF yang lebih tinggi, bahkan sering sampai “kebablasan” misalnya sampai ke TF Daily, padahal ia day trader. Bahkan dalam kaidah MTFA pun, hal ini salah.

misalnya: seorang trader membuka posisi Sell, tetapi ketika harga naik serta floating loss yang dialami membesar, ia bukannya melakukan cut-loss tetapi mencari pembenaran. Di TF MONTHLY masih mentok resistance….” Padahal ia day trader yang seharusnya tak pernah membiarkan posisi terbuka lebih dari sehari. Ini jelas upaya pembenaran yang justru salah.

Intinya, metode apa pun yang Kalian pergunakan, tetaplah miliki trading plan yang baku, termasuk di dalamnya adalah pembatasan resiko.

(Yn)

Pengertian Multiple Time Frame Analysis (bagian 1)

Apa Sih Sebenarnya Multiple Time-Frame Analysis?
MTFA (multiple time-frame analysis) melibatkan beberapa time-frame (TF) untuk currency pair yang sama. Memang tidak ada batasan baku mengenai berapa banyak TF yang boleh dipergunakan, tetapi ada semacam “panduan” yang perlu Kalian ikuti.

Penggunaan tiga TF yang berbeda biasanya cukup dapat memberikan outlook pasar yang cukup luas. apabila terlalu sedikit TF yang digunakan, maka informasi yang akan Kalian dapatkan pun kurang. Sebaliknya apabila terlalu banyak, justru analisanya cenderung akan “kebablasan” sehingga menjadi tidak sesuai dengan gaya trading Kalian.

TF yang “medium”, atau yang pertengahan, harus pertama kali ditetapkan sebagai patokan berapa lama (rata-rata) transaksi akan dibiarkan terbuka. Nah, dari situ baru melangkah ke TF yang lebih pendek (short), yang haruslah setidaknya seperempat dari TF yang pertengahan tadi.

Jadi, apabila TF pertengahan ialah H1 (hourly) alias 60 menit-an, maka TF yang “short” haruslah M15 (15-minutes).

Dengan perhitungan yang sama, TF yang “panjang” (long) setidaknya harus empat kali lebih besar daripada TF yang “medium” tadi. sebab tadi TF medium ialah H1, maka TF yang “long” haruslah H4.

Aturan-aturan tersebut di atas dalam MTFA dikenal dengan nama “aturan angka empat”.

Sebagai contoh, dibawah ini ada 3 TF, yaitu :

 

– M15, kitas sebut saja sebagai TF short

– H1, kita sebut sebagai TF medium

– H4, kita beri namaTF long

Sangat penting memilih TF yang tepat. Seorang trader long term yang biasa membiarkan posisinya terbuka selama – misalnya – sebulan, sebaiknya tidak mempergunakan gabungan TF di atas. Ia mungkin akan lebih baik mempergunakan gabungan lain misalnya Daily (D1), Weekly (W1) dan Monthly (MN). gabungan dalam contoh di atas lebih tepat untuk dipergunakan oleh trader short term atau day trader.

TF Long
Setelah Kalian membekali diri dengan dasar menetapkan TF dalam MTFA, sekarang waktunya untuk menerapkannya dalam forex trading. Dengan metode ini, umumnya lebih baik memulai dari TF long term (TF long). Dengan mengamati TF long, Kalian akan dapat menemukan trend yang paling dominan.

Untuk open posisi, jangan pergunakan TF long sebagai sinyal. TF long hanya dipergunakan untuk menentukan trend umumnya saja, jadi posisi yang dibuka nanti harus sejalan dengan trend yang terlihat di TF long ini. tetapi bukan berarti bahwa Kalian sama sekali tidak boleh open posisi yang berlawanan dengan trend di TF long, tetapi sebaiknya selalu ingat konsep “the trend is your friend”. Tentu saja posisi yang berlawanan dengan trend umum akan memiliki peluang kesuksesan yang lebih rendah dibandingkan posisi yang sejalan dengan trend umum.

TF Medium
Di TF Medium, Kalian akan dapat melihat liukan-liukan pergerakan dengan lebih jelas daripada di TF Long. Di TF Medium inilah Kalian nanti dapat menentukan kira-kira kapan akan open posisi. Petunjuk di TF Medium ini nanti akan diperinci lagi di TF yang lebih rendah, yaitu TF Short.

Dalam perkembangan teknik trading, seringkali justru di TF Medium Kalian akan mendapatkan petunjuk dini mengenai kemungkinan reversal (pembalikan arah).

TF Short
Di TF inilah nanti Kalian harus mencari sinyal entry (buy atau sell). Ini sebab fluktuasi yang terjadi dapat terlihat lebih jelas sehingga seorang trader nantinya akan dapat mengambil entry level yang lebih baik. Tetaplah ingat jika sinyal yang muncul di TF ini wajib sejalan dengan trend yang sudah diperlihatkan di TF yang lebih besar.

Bersambung..

(Yn)

Kesabaran adalah Kunci Dalam Trading

Kesabaran itu tidak cukup hanya diniatkan dan diucapkan melalui lisan, apabila juga harus diimplementasikan. .

Biarkan market Bergerak
Sebenarnya ini sudah jelas. Kalian tak mungkin bisa mengatur ke mana harga harus bergerak. Tidak mungkin market akan tunduk pada keinginan trader retail seperti Kalian. Maka pilihan Kalian hanyalah membiarkan market bergerak sesuai dengan kehendaknya sendiri.

Coba sekarang bayangkan lagi skenario seperti ini:

market sudah memenuhi kondisi yang Kalian inginkan (tentunya sesuai dengan tading plan). Kalian kemudian membuka posisi, misalnya buy. Kemudian sesuai trading plan Kalian menempatkan stop-loss (SL) dan take-profit (TP). Selanjutnya yang Kalian lakukan mestinya adalah menunggu apakah TP atau SL yang kena.

Beberapa waktu kemudian ternyata harga bergerak naik. Senyum Kalian mengembang karena di trading terminal Kalian melihat transaksi memperoleh keuntungan. apabila sebelum harga mencapai TP, market berbalik arah hingga transaksi yang tadinya untung berubah menjadi loss. Di titik tersebut, bayangkan Kalian dilKalian kepanikan. Khawatir kerugian menjadi terlalu besar, Kalian lantas menutup transaksi tersebut dan mengalami kerugian kecil.

Garis bawahi ini: Kalian melakukan cut-loss bahkan sebelum harga menyentuh SL. Seringkali yang terjadi kemudian adalah segera setelah Kalian melakukan cut-loss, harga kemudian rebound dan bahkan mencapai TP Kalian.

Atau, bisa jadi Kalian menutup transaksi tersebut meskipun keuntungan yang diperoleh masih relatif kecil (belum mencapai TP). Motifnya sama: takut rugi.

Mungkin Kalian saat ini sedang tersenyum, karena mungkin skenario di atas sering terjadi pada Kalian. J

Memang benar bahwa dalam trading ada prinsip, “Cut your losses short, let your profits run.” apabila dalam kasus di atas, penerapan prinsip tersebut salah. Mengapa? Karena dalam kasus di atas, cut-loss yang dilakukan justru terlalu dini. Cut-loss yang dilakukan semata karena takut dan tidak didukung oleh analisa yang obyektif.

Seharusnya, biarkan saja market bergerak ke mana pun dan jangan tutup transaksi Kalian hanya karena merasa khawatir keuntungan akan berubah menjadi kerugian.

Lho, tapi kan tidak semudah itu? Siapa sih yang mau rugi, padahal seharusnya bisa untung?

Benar. Untuk itulah saya merasa Kalian perlu memperhatikan poin terakhir di bawah ini.

Stick to the Plan
Di atas telah diceritakan bahwa banyak trader kabur dari market terlalu dini. Padahal yang seharusnya Kalian lakukan adalah jangan membuka atau menutup sebuah transaksi sebelum ada argumen yang obyektif untuk itu. Dari mana argumen obyektif itu bisa Kalian dapatkan? Tentu saja dari sistem trading yang Kalian pergunakan.

Kembali ke kasus “premature exit” di atas. Bukan tidak boleh menutup posisi sebelum SL atau TP tercapai. Boleh kok. Yang tidak boleh itu adalah menutup posisi (entah itu cut-loss atau taking profit) hanya karena faktor emosional: takut. Ketakutan yang tidak beralasan, karena tidak ada argumen analisa yang terlibat.

Itulah perlunya Kalian disiplin menjalankan trading plan, seperti yang sering saya sebut-sebut di hampir semua artikel yang saya tulis. Ingat pula bahwa setiap strategi trading yang Kalian jalankan tentulah telah melewati serangkaian fit and proper test sebelum Kalian ajak terjun langsung di market. Percayalah pada sistem dan trading plan Kalian dan jalankan dengan disiplin.

apabila sadari juga disiplin menjalankan trading plan bukan berarti Kalian harus berkata, “Pokoknya kalau nggak kena SL dan TP, gue nggak akan close posisi gue.”

Itu sih bukan disiplin melainkan kaku. Fleskibel itu justru penting dalam trading. Ada kalanya market tidak bersetuju dengan analisa Kalian dan saat itulah Kalian boleh mencari petunjuk untuk bisa keluar dari market sesegera mungkin. Catat: cari petunjuk. Dari mana? Tadi sudah disinggung kan? Dari sistem trading. Dengan demikian, semua keputusan Kalian akan lebih obyektif.

The Bottomline
Jadi, jelas kan? Sekarang Kalian bisa melihat bahwa dalam forex trading, psikologi memegang peranan kunci. Kesabaran adalah salah satu modal penting seorang trader. Kesabaran adalah kunci dalam disiplin menjalankan trading plan. apabila menjadi disiplin tidak boleh menjadikan Kalian seorang trader kaku. Itu harus Kalian hindari.

Intinya, setiap keputusan buy, sell, cut-loss, atau taking profit harus berdasar pada analisa dan trading plan, bukan pada praduga semata. Untuk bisa melihat hal-hal itu secara obyektif, Kalian harus memiliki kesabaran yang cukup.

 

(Yn)

Memahami 10 Kejiwaan yang Terjadi Saat Belajar Trading Forex

Berikut hal yang wajib diketahui dari mulai belajar forex trading, baik untuk kamu seorang Scalper, Day Trader atau Momentum / Swing Trader:

1. The Market Pays You To Be Discipline. Semakin kamu disiplin Cut Loss serta disiplin dengan cara serta strategi kamu, maka market akan menghargai kamu dengan memberikan keuntungan‐keuntungan. pengukuhan cut loss perlu mulai dibiasakan dari mulai belajar forex trading serta itu sangat penting dalam kejiwaan trading.

2. Never Turn A Winner Into A Loser. kejiwaan trading kedua, jika kamu telah mengalami Floating laba, jangan tunggu sampai Floating Loss lalu kamu perlu tutup posisi dengan Cut Loss. Gunakan Trailing Stop. Trailing stop ini juga perlu dipahami dan dipelajari dengan baik.

3. Develop A Methodology And Stick With It. Don’t Change It From Day to Day. Dari mulai belajar forex trading, gunakan strategi yang kamu percayai serta yakini serta akan kamu pergunakan. Jangan diubah sampai kamu benar-benar yakin bahwa kerugian yang kamu alami bukanlah karena kamu yang tidak disiplin dalam menggunakan strategi kamu. Dalam kejiwaan trading kamu bisa mengubah strategi jika memang jelek serta benar-benar tidak bisa diterapkan pada market yang kamu masuk.

4. Be Yourself. Don’t Try To Be Someone Else. kejiwaan trading keempat, gunakan cara trading yang sesuai dengan pribadi serta kehidupan kamu serta terapkan dari awal saat mulai belajar forex trading. Semakin kamu nyaman dengan gaya trading kamu, baik itu strategi, Time Frame serta Money Management yang kamu gunakan, hasil trading kamu semakin baik. serta kamu pun akan semakin mencintai bisnis yang bisa menambah income kamu ini.

5. The First Loss is The Best Loss. Jangan tunggu sampai loss kamu semakin besar dengan membiarkan harga bergerak melebih titik & point Cut Loss kamu. Konsisten dengan kejiwaan trading dengan tidak mengubah Cut Loss yang sedari awal ditetapkan. kamu perlu sudah mempersiapkan untuk loss sampai titik & point Cut Loss kamu begitu kamu masuk market.

6. Don’t Hope And Pray, Don’t Speculate. If You Do, You’ll Lose. kejiwaan trading keenam, dengan melakukan analisa, berarti kamu telah mengurangi serta bahkan menghilangkan sisi spekulasi (sisi judi) dalam trading. Tidak ada yang menjamin kamu tidak akan mengalami kerugian dengan kamu melakukan analisa. Namun tidak ada yang menjamin kamu akan untung dengan melakukan spekulasi serta (hanya) duduk berdoa serta berharap.

7. Hit Singles, Not Home Run. Keuntungan yang terbaik ialah keuntungan yang didapat sedikit demi sedikit yang sesuai target yang realistis. Memang kita semua mengharapkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Namun seiring dengan pengembangan kalimat kejiwaan trading “High Risk High Return” yaitu “Fast High Return – Fast High Risk”. Rome Wasn’t Built in A Day. Pahami prinsip ini juga saat belajar forex trading sebelum trading sungguhan.

8. Don’t Over Analyze and Don’t Hestitate. If You Do, You’ll Lose. Jangan terlalu dalam menganalisa suatu market. Ingat, kamu bertujuan untuk trading serta melakukan transaksi. Bukan untuk melakukan riset market atau membuat skripsi. Tujuan kamu ialah menganalisa, masuk market (transaksi) serta keluar market (untung atau rugi) sesuai dengan rencana kamu. Ingat kejiwaan trading kita saat belajar forex trading bukan untuk menjadi analis.

9. All Traders Are Created Equal in The Eyes of The Market. Trader yang hebat bukanlah trader yang tidak pernah salah serta tidak pernah loss. Trader hebat ialah trader yang dapat membuat strategi yang bagus serta dapat mengikuti rencana dia dengan baik. Setup kejiwaan trading kamu bahwa semua traders hebat pasti pernah rugi serta salah. Bahkan mereka percaya bahwa mereka hebat karena mereka pernah rugi serta pernah kalah. Yang penting bagaimana hasil trading average selama 6 atau 12 bulan. Bukan hanya 1 -3 bulan saja. Saat masih belajar forex trading kalkukasi perbandingan laba & loss kita.

10. It’s The Market Itself That Wields The Ultimate Scale of Justice. kejiwaan trading terakhir, hanya ada dua peraturan yang wajib trader patuhi dari mulai masih belajar forex trading. Pertama : market Selalu Benar. Kedua : Ingat Peraturan Pertama.

 

(Yn)

Tips Bagaimana Cara Menyiasati Risiko Trading

Siapa yang berani menyangkal bahwa forex trading beresiko tinggi? Setiap orang yang pernah trading tentu tahu ada resiko yang selalu membuntuti setiap transaksi yang dilakukan. Ya, sama saja seperti bisnis-bisnis lain yang juga memiliki faktor resiko. Hanya saja tingkat resiko di forex jauh lebih tinggi.

 

Tingginya tingkat bahayanya yang ada justru menjadi gelagat bahwa potensi keuntungan yang tersimpan di dalamnya juga tak kalah tingginya. High risk-high return, itu hukum tak tertulis dalam dunia bisnis atau investasi.

Permasalahannya kemudian adalah: seberapa tinggi kemampuan Anda mengusahakan bahaya yang ada, untuk kemudian diubah menjadi peluang keuntungan? Ironisnya, walaupun setiap trader sadar akan kehadiran bahaya, namun tak semua orang memiliki kesadaran untuk mengelola resiko itu dengan baik.

Penyebabnya klasik: kejiwaan. Implementasi “mengelola resiko” dalam forex trading, salah satunya adalah keberanian untuk membuang posisi yang merugi alias cut-loss. Belum lagi pengendalian emosi, misalnya tidak membuka posisi terlalu besar demi mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat.

Manajemen resiko pun sebenarnya tidak bisa lepas dari faktor kejiwaan. Anda memang bisa mempelajari teknik-teknik manajemen resiko dalam trading, namun dalam menerapkannya faktor kejiwaanlah yang berperan.

Agar beban kejiwaan dalam mengelola resiko menjadi lebih ringan, ada baiknya Anda mengikuti tips-tips berikut ini.

1. Gunakan “Risk Capital” Saja
Dalam trading, Anda sebaiknya membatasi resiko. Gampangnya, apabila Anda memiliki uang sebesar $10,000 maka tetapkan kisaran toleransi resiko maksimal, misalnya 50%. Jadi, mindset Kalian sebaiknya berpikir bahwa Kalian hanya memiliki modal sebesar $5,000. Inilah yang disebut sebagai risk capital.

Dari risk capital itu, detailnya akan jadi kisaran resiko yang lebih kecil, yaitu kisaran resiko setiap transaksi. Misalnya, tetapkan resiko maksimal sebesar 10% dari risk capital tersebut. Jadi, tiap kali Kalian melakukan transaksi, kerugian maksimal yang akan Kalian tanggung hanya sebesar $500 saja.

Menurut kalkulasi diatas, bisa di sebut jika dalam setiap transaksi Kalian hanya meresikokan sebesar 5% saja dari modal asli Kalian. Cukup kecil kan?

Diharapkan, dengan resiko yang kecil itu, Kalian akan lebih “nyaman” dalam mengambil keputusan membatasi resiko.

2. Cut Your Losses Short, Let Yout Profits Run
Ini adalah salah satu idiom yang populer dalam forex trading. Intinya sih Kalian harus bisa secepat mungkin menutup posisi yang mengalami kerugian, namun berani membiarkan posisi yang sedang untuk hingga setidaknya mencapai target.

Namun memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Bagaimana supaya jadi mudah dilakukan?

Untuk itu Kalian perlu memiliki pengetahuan yang cukup tentang analisa teknikal. Analisa teknikal akan membantu Kalian menemukan di mana kisaran resiko dan target profit yang tepat. Kalian juga akan bisa mengetahui “peringatan dini” sehingga bisa segera menutup posisi yang merugi. Selain itu, dengan pengertian analisa teknikal yang memadai Kalian juga akan bisa menetapkan apakah posisi yang sedang mengalami keuntungan bisa dibiarkan terbuka atau tidak.

3. Jangan Overtrade
Leverage memang memudahkan apabila dilihat dari kecilnya modal yang dibutuhkan untuk melakukan transaksi dibandingkan nilai transaksi sesungguhnya.

Sepintas, semakin besar leverage terkesan semakin menguntungkan. sebaliknya sebenarnya tidak selalu begitu.

 

Salah satu penjelasan sederhananya begini:

Semakin besar leverage berarti semakin murah modal yang dibutuhkan untuk melakukan transaksi. apabila semestinya Kalian membutuhkan modal sebesar $100,000 untuk melakukan transaksi, maka dengan leverage 1:100 Kalian bisa melakukan transaksi dengan modal hanya sebesar $1,000.

apabila Kalian punya dana sebesar $10,000 di akun Kalian, maka dengan modal transaksi sekecil itu biasanya Kalian akan terpancing untuk membuka transaksi sebanyak mungkin karena Kalian merasa memiliki banyak “peluru”. sebaliknya sebenarnya tidak demikian, karena setiap pip kerugian yang Kalian derita akan dikalikan dengan $100,000 dan dikalikan pula dengan jumlah lot yang Kalian buka.

4. Jangan Serakah
Kalian mungkin pernah menonton film berjudul “Wall Street”. Dalam film tersebut ada seorang tokoh bernama Gordon Gecko yang berpendapat bahwa “greed is good”. Saya tidak percaya itu.

Mungkin benar bahwa dalam kondisi yang tepat dan “takaran” tertentu, “greed” bisa membantu memperbesar potensi keuntungan. Misalnya ketika Kalian menetapkan untuk mengaktifkan trailing stop ketika transaksi Kalian sudah mencapai keuntungan tertentu. Permasalahannya, tidak semua orang bisa mengatur “takaran” dan menentukan kapan ia harus menjadi agak “greedy”.

walaupun demikian, keserakahan yang tidak terkendali pada kenyataannya adalah salah satu hal paling mematikan bagi seorang trader. Overtrade, mengambil resiko terlalu besar dan tidak menetapkan target profit adalah beberapa di antara implementasi keserakahan.

Solusinya adalah perencanaan dalam trading. perencanaan dalam trading adalah salah satu hal yang bisa mengontrol “kadar keserakahan” dalam diri seorang trader.